Mahasiswa dan Nasib Organisasinya

Sering kali kita mendengar kalimat tentang “Organisasi kemahasiswaan sudah tidak relevan dengan zaman sekarang”. Ya, kalimat seperti banyak sekali diperbincangkan mahasiswa di setiap sudut-sudut kampus. Mulai dari mahasiswa kupu-kupu, kura-kura dan jenis mahasiswa lainnya tidak akan berhenti untuk mengulas relevansi organisasi kemahasiswaan sekarang.

Teman-teman pasti meyadari, bahwa minat orang masuk organisasi berbeda-beda. Ada yang ingin memperluas wawasan, memperdalam ilmu pengetahuan, menumbuhkan softskill dan hardskill, bahkan tak banyak yang saya jumpai untuk memperbanyak relasi. Tetapi, terlepas dari semua itu ada tujuan organisasi yang mesti dicapai secara bersama-sama. Saya selalu bilang kepada teman-teman mahasiswa, bahwa organisasi itu seperti kapal laut yang di isi oleh nahkoda dan juga staf kapal yang akan membantu untuk sampai pada dermaga tujuan.

Namun, pengamatan saya selama  dua tahun terakhir ini, menyadarkan saya bahwa organisasi yang tida berinovasi dan sudah tidak sesuai dengan era sekarang, itu akan terhambat dan bahkan mengalami kemerosotan atau kemunduran. Dikarenakan terlalu banyak kemudian organisasi yang dipemainkan oleh mereka yang menyebut dirinya penguasa. Alih-alih memperbaiki kesalahan yang telah mereka perbuat, justru semakin memperparah dan juga seenaknya. Kalo kata Soe Hok Gie :

          “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa, merintih Ketika ditindas, tetapi menindas jika berkuasa.”

Saya banyak bertanya pada teman-teman mahasiswa tentang mengapa tidak betah untuk berorganiasi? Kebanyakan dari mereka menjawab karena adanya campur tangan atau yang sering kita dengar doktrin atau intervensi. Berarti ada hal-hal yang mencengangkan, mengapa zaman sekarang organisasi kurang diminati oleh mahasiswa. Budaya-budaya negatif yang masih dipertahankan sampai sekarang ini menjadi cikal bakal kemunduran organisasi. Alasannya beragam, ada yang bisa diterima oleh akal dan ada juga yang isinya omong kosong. Yang katanya mengedukasi, mendidik dan mengajarkan sopan santun itu hanya sampai pada kata tidak dengan perilaku.

          Penulis berharap, organisasi kemahasiswaan di isi dengan hal-hal yang positif, memberikan dampak yang luar biasa di sekitar dan mengubah pola pengkaderan yang semi militer. Agar alasan-alasan untuk memasuki organisasi bisa kemudian di rasionalkan dan tentunya Kembali diminati oleh para mereka yang haus dan lapar akan ilmu pengetahuan.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *